Postingan

Aku anak Bapakku

Gambar
Aku Anak Bapakku oleh Sutarmini – Omah Bangsan Kalimat “Aku anak bapakku” pernah terasa berat seperti beban di punggung. Ia mengingatkan pada masa ketika label lebih keras daripada fakta, ketika stigma lebih nyaring daripada kebenaran. Namun justru dari sanalah saya belajar menegakkan nama — bukan sebagai tameng, tetapi sebagai amanah. Dari Luka Menjadi Asa Masa kecil menyimpan ingatan yang tak mudah dilupakan: ketegangan, bisik-bisik, dan rasa takut akan hal-hal yang tak saya mengerti. Tetapi waktu, doa ibu, dan pelukan keluarga mengajari saya untuk memandang ke depan. Luka memang meninggalkan bekas, tetapi bekas itulah yang membentuk peta untuk pulang. Nama yang Dipikul, Nama yang Kutegakkan Nama bukan sekadar huruf — ia sejarah dan tanggung jawab. Saya memilih untuk merawat nama itu dengan melakukan yang bisa saya lakukan: bekerja jujur, belajar tanpa henti, menulis dengan hati. Jika dulu saya memikul nama, kini saya menegakkannya, agar anak cucu tak lagi berjalan dengan ke...

Merajut Masa Depan Lewat Teknologo & Budaya

Merajut Masa Depan Lewat Teknologi & Budaya oleh Sutarmini – Omah Bangsan Budaya mengajarkan makna, teknologi memberi alat. Ketika keduanya saling meneguhkan, lahirlah manusia yang merdeka berpikir dan berjiwa. Inilah ikhtiar saya: menautkan warisan budaya dengan perangkat teknologi agar nurani tidak tertinggal oleh laju zaman. Menjaga Nurani di Tengah Laju Zaman Di ruang publik yang semakin bising, suara pelan sering tenggelam. Namun, yang pelan bukan berarti rapuh. Ia dapat menjadi jangkar, menjadi sumbu yang menyalakan kembali cahaya di tengah gelap. Budaya dan teknologi bukan dua kutub yang berseberangan, melainkan dua tangan yang saling menguatkan. “Melawan arus bukan berarti salah — kadang itulah satu-satunya jalan menuju keadilan. Di saat logika dibungkam dan keadilan dipinggirkan, seni dan budaya menjadi suara nurani yang tak bisa dibungkam.” Teknologi yang Membumi Teknologi harus terasa di dapur, di sawah, di ruang kelas, di halaman rumah warga. Dari Google D...

Buah Simalakama

Gambar
 🌿 Buah Simalakama Aku sering mendengar pepatah tua tentang buah simalakama: buah yang serba salah— dimakan mati ayah, tak dimakan mati ibu. Sejarah hidupku pun tak jauh berbeda. Aku lahir dari rahim seorang ibu yang kupikir darahnya adalah darah pejuang. Pejuang yang tidak tercatat di buku besar republik, tapi nyata menjaga dapur tetap mengepul. Ia membuat anak-anaknya tetap bisa makan nasi, ketika tetangga hanya sanggup menanak bulgur. Kadang aku bertanya: benarkah darah itu mengalir dalam tubuhku? Bolehkah aku mengklaim lahir dari semangat para pejuang itu? Ataukah aku hanya perempuan biasa, yang tumbuh di antara kisah getir perjuangan? --- Aku masih ingat gemuruh panjang itu. Baru awal aku bertugas di kepolisian, tawaran menggiurkan datang begitu saja: gaji empat kali lipat, asal aku mau resign. Saat itu aku sudah tahu, mungkin karierku suatu hari akan mentok. Dan benar, aku mengalami sendiri terpinggirkan karena benang merah orangtuaku, yang pernah terseret tuduhan PKI. Tapi ...

Demo Nurani : Berani tolak Politik uang

Gambar
Jangan Mau Miskin, Termasuk Miskin Nurani Polisi sering kali menjadi wajah bobrok di mata rakyat. Mereka dituding sebagai biang pungli, aparat penindas, wajah keras negara. Padahal, Demo Nurani mengingatkan: jangan berhenti menyalahkan polisi. Akar masalah bukan di seragam mereka. Akar busuk itu ada di kursi DPR yang diperjualbelikan. Kursi yang dibeli dengan harga miliaran melahirkan undang-undang yang korup, menyuburkan pungli dari atas hingga ke bawah. Polisi hanya menjadi pelaksana dari aturan yang sudah busuk sejak hulu. Dan jangan lupa, di balik kursi mahal itu ada uang politik. Meskipun kita miskin, jangan lagi mau menerima uang yang justru membuat kita semakin miskin. Uang itu bukan rezeki, melainkan racun. Dari uang politik lahirlah pajak yang dinaikkan, pungutan yang mencekik, dan akhirnya hanya pemodal yang bisa hidup nyaman. Aspirasi rakyat hilang, pemerintah menjadi budeg dan tuli. Maka Demo Nurani mengajak: jangan hanya marah, jangan hanya menyalahkan. Ajak tetang...

Bangsa ini hidup dari mereka, tapi melupakan mereka

 Bangsa ini hidup dari mereka, tapi melupakan mereka Hak yang Terlupakan Ketika berbicara tentang hak asasi manusia, pikiran kita sering tertuju pada rakyat kecil yang tertindas, atau pada aparat yang dituding melanggar. Namun jarang kita mau melihat lebih dalam: bahwa penegak hukum, guru, petani, buruh—semuanya bisa menjadi korban. Mereka sama-sama manusia, sama-sama memiliki hak yang sering dirampas oleh sistem. Polisi, Seragam yang Membatasi Hak Polisi kerap digambarkan sebagai penegak hukum yang kuat. Tetapi di balik seragam itu, ada manusia yang haknya sering terabaikan. Mereka diminta menjaga hak orang lain, namun waktu, privasi, bahkan kebahagiaan keluarganya kerap dirampas. Aku masih ingat kalimat puteriku ketika kecil, yang kini menjadi seorang polwan: “Anak yang paling tidak bahagia di dunia itu anak polwan.” Ucapan polos yang menusuk nurani. Ia bukan sedang menolak profesi ibunya, melainkan sedang merasakan kehilangan: kehilangan pelukan, kehilangan kebersamaan, kehilang...

Bunga Rampai

Gambar
🌸 Bunga Rampai Omah BangsaN Bunga rampai ini adalah serpihan-serpihan hati Eyang yang belum sempat ikut dalam e-book. Ia mengalir begitu saja, bagai sumber yang tak pernah habis. 👉 Klik di sini untuk membaca Bunga Rampai yang terus bertumbuh Setiap hari mungkin ada tambahan baru, sebab sungai kata ini tidak pernah kering. Baca Juga: Monolog Luka Menjadi Asa Kala Cahaya Mengetuk Aku Perawan Persembahan Merajut Masa Depan lewat Teknologi dan Budaya (masih tahap edit) Merajut Masa Depan Lewat Teknologi dan Budaya Aku Anak Bapakku — Dari Nama yang Dipikul ke Nama yang Kutegakkan

Masyarakat cerdas Pejabat Transparan

Gambar
Gerakan Demo Nurani Omah Bangsan: Masyarakat Cerdas, Pejabat Transparan Gelombang demo akhir-akhir ini memperlihatkan jurang antara rakyat dan pejabat publik. Rakyat sering marah karena merasa tidak didengar, sementara pejabat publik enggan membuka ruang dialog. Padahal keterbukaan adalah amanat UU No.14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) dan UU Keuangan Negara . Melalui Gerakan Demo Nurani , Omah Bangsan hadir mendampingi rakyat untuk: Melek UU KIP dan berani meminta informasi publik. Mampu membaca APBD/APBN serta memahami output vs outcome . Mengawasi kinerja pejabat publik, bukan sekadar angka serapan. Memanfaatkan AI sebagai asisten ruang publik digital. 📂 Dokumen Gerakan Demo Nurani Proposal Demo Nurani – Buka di sini UU KIP & Literasi Anggaran – Baca di sini AI sebagai Asisten Ruang Publik – Lihat di sini 🎯 Manfaat Gerakan Masyarakat: cerdas, kritis, tidak mudah terprovokasi. Pemerin...

Aku pernah jadi koruptor

Gambar
  Aku Pernah Jadi Koruptor Kesaksian ini bukan untuk membuka aib, melainkan untuk mengakui luka bangsa. Luka yang lahir karena korupsi sudah menjadi bagian dari keseharian birokrasi dan politik kita. Aku pernah jadi koruptor. Pengakuan ini pahit, tapi harus diucapkan... Baca selengkapnya » 📚 Baca Juga Karya Sutarmini – Omah Bangsan Merajut Masa Depan Lewat Teknologi dan Budaya Aku Anak Bapakku — Dari Nama yang Dipikul ke Nama yang Kutegakkan Aku Perawan Persembahan (PDF) Aku Pernah Jadi Koruptor Kala Cahaya Mengetuk Wasiat Ruhani Gerakan Lilin Nusantara · Omah Bangsan · 2025

Ayukk Latihan Gamelan, Tari dan acting

Gambar
📄 Draft Polos (anti-null) Judul: Pendaftaran Tari, Karawitan, dan Latihan Acting – Omah Bangsan Isi: Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau berlatih budaya? Omah Bangsan kembali membuka ruang belajar bersama dalam tiga bidang seni utama: Tari Tradisional – menari bukan sekadar gerak tubuh, tapi napas jiwa yang merawat akar leluhur. Karawitan – gamelan berbunyi bukan sekadar nada, tapi doa dan harmoni yang mengikat rasa kebangsaan. Latihan Acting (Teater) – bermain peran bukan sekadar di panggung, tapi juga belajar memahami hidup dan manusia. Omah Bangsan percaya, budaya hanya akan terus hidup bila ada yang merawatnya. Dan yang bisa merawatnya—ya kita sendiri, generasi bangsa ini. Daftar sekarang melalui tautan berikut: https://forms.gle/3UigL9p2xhd76ZDC9 Mari hadir, mari belajar, mari bersama. Karena seni bukan milik segelintir orang, tapi milik semua yang mau menjaga cahaya budaya untuk semesta.

Ketika mesin ku ajak jujur

Gambar
 Bidikan Wahyu dalam video singkat ini bukan sekadar gambar, melainkan cermin rindu Omah Bangsan: rindu untuk kembali pada budaya leluhur, rindu untuk menjaga kejujuran sebagai napas kehidupan. Suara Eyang yang mendominasi tanpa musik latar hadir seperti doa: “Mesin pun ku ajak jujur, apalagi manusia.” 👉 Tonton videonya di sini: Mesin Pun Ku Ajak Jujur – YouTube 🌱 Mesin mencatat angka, hati manusia mencatat kebenaran. Mari kita kembalikan budaya leluhur sebagai cahaya jalan bangsa. Dukung Omah Bangsan lewat QRIS 🌸 Jika Anda merasa tersentuh dengan karya dan refleksi ini, mari dukung gerakan budaya Omah Bangsan dengan kontribusi melalui QRIS berikut: atau Transfer melaui rekening BRI : 4642 0100 5796 501  a.n Sutarmini  @OmahBangsan 🌸 Terima kasih atas dukungan Anda. Setiap kebaikan yang mengalir akan menjadi bagian dari napas budaya yang kita rajut bersama. Baca Juga: Merajut Masa Depan Lewat Teknologi dan Budaya Aku Anak Bapakku — Dari Nama...

Wasiat Ruhani

Gambar
Wasiat Ruhani untuk Anak Cucu (Prasasti Seorang Perempuan Jawa) Tulisan ini lahir dari perjalanan panjang seorang perempuan Jawa yang ditempa luka, stigma, dan cinta. Di dalamnya ada pertanyaan masa kecil tentang Tuhan, kisah tentang Simbah yang menjaga budaya dengan teko wedang, ibu yang tetap menyalakan jathilan dengan nasi ngeliwet, hingga pengalaman di Bali yang mengajarkan cara baru memandang kematian. Buku kecil ini adalah prasasti ruhani . Bukan tanda ingin cepat mati, melainkan bekal agar anak-cucu tidak bingung, tidak saling berselisih, dan tetap mendoakan dengan tenang ketika saat itu tiba. “Anak-anakku, cucu-cucuku tersayang, jika kelak Eyang sudah tidak lagi ada di sisimu, janganlah bingung dengan agamaku. Kini aku mengerti, Tuhan tidak butuh agama. Agama hanyalah jalan manusia, wadah yang berbeda-beda untuk sampai kepada-Nya. Sedang aku memilih jalan sederhana: jujur dalam hati, menyembuhkan dengan cinta, dan sujud tanpa malu-malu ...

Mimpi kah diriku

  🏡  Bukan Mimpi Semata – Ini Gerakan Nyata Hari ini, biarlah seluruh semesta tahu: Ini bukan mimpi Eyang semata. Bukan obsesi pribadi. Bukan ambisi yang haus simbol. Bukan pula panggung untuk sekadar tampil. 🕰️  Lima tahun lalu , di sebuah video yang Eyang rekam dan unggah ke kanal  YouTube Omah Bangsan , dua tokoh penting tampil menyuarakan harapan besar: 🎙️  Bapak Min Suratna  — tokoh masyarakat Sindumartani 🎙️  Prof Gunawan Sumodiningrat  — penggerak ekonomi kerakyatan Video itu bertajuk: “Membangun Indonesia dari Desa” Dan di situlah,  mimpi kita bersama disuarakan. “Saya ingin Sindumartani menjadi desa mandiri budaya.” — Bapak Min Suratna Hari ini, lima tahun kemudian, Eyang dan tim memegang komitmen itu. Kami sedang membangun: ✨  Lapak Sindu – Lapak Budaya  ✨ Bukan sekadar marketplace, tetapi gerakan — yang menyalurkan semangat kerakyatan ke dalam sistem digital. 📺  Tonton kembali jejak awalnya di YouTube: 🔗  ...

Kala Cahaya Mengetuk

  📖 Kala Cahaya Mengetuk Kala Cahaya Mengetuk adalah catatan perjalanan ruhani seorang perempuan yang pernah berdiri di tepi jurang luka, namun tak henti memanggil Tuhan. Dalam sunyi yang penuh doa, tiga kali ia mengalami mikraj — perjumpaan spiritual yang menggetarkan jiwa. Pengalaman pertama datang di tengah keprihatinan mendalam, saat doa untuk seorang saudara sepupu mengalir tanpa henti. Tiba-tiba, kesadaran melesat ke alam tanpa jejak bumi, dikelilingi cahaya lembut yang tak menyilaukan. Harapan yang ia titipkan pada Tuhan terjawab, meninggalkan keyakinan bahwa doa tak pernah sia-sia. Pengalaman kedua hadir pada saat kehilangan besar: kematian suami yang begitu mendadak. Dalam kesadaran penuh, ia melihat sosok yang dicintai datang sekali lagi — bukan dalam mimpi, tapi dalam ruang yang tak bisa dijelaskan oleh logika dunia. Senyum yang menenangkan itu menjadi pesan bahwa cinta sejati tak pernah mati, hanya berpindah dimensi. Pengalaman ketiga muncul di tengah zikir, ...

Luka Menjadi Asa

Gambar
  Luka Menjadi Asa adalah suara lirih yang dipanggil dari dasar batin. Sebuah monolog, bukan untuk panggung besar, melainkan untuk panggung jiwa — di mana seorang perempuan berbicara pada dirinya sendiri, pada lukanya, dan pada semesta. Naskah ini bukan sekadar teater, melainkan ritual pengakuan: tentang luka yang diwariskan, tentang sistem yang memukul pelan tapi menghancurkan, dan tentang keberanian untuk tetap hidup dan bermakna. Ditulis oleh perempuan tua yang telah bertahan dari badai, monolog ini mengajak kita merenung: bahwa dari luka terdalam, bisa lahir cahaya yang paling jernih. 🎭 Baca naskah lengkap Luka Menjadi Asa di sini 📚 Baca Juga Karya Sutarmini – Omah Bangsan Merajut Masa Depan Lewat Teknologi dan Budaya Aku Anak Bapakku — Dari Nama yang Dipikul ke Nama yang Kutegakkan Aku Perawan Persembahan (PDF) Aku Pernah Jadi Koruptor Kala Cahaya Mengetuk Wasiat Ruhani Gerakan Lilin Nusantara · Omah Bangsan · 2025

Selamat Pagi Luka

Gambar
  Selamat Pagi Luka bukan sekadar kumpulan tulisan—ia adalah sapaan lembut untuk rasa sakit yang selama ini dibungkam. Dalam buku ini, luka-luka diberi nama, diberi ruang, dan diberi waktu untuk bersuara. Ditulis oleh seorang perempuan yang telah berdamai dengan kepedihan, buku ini menjadi perjalanan batin — dari reruntuhan keyakinan, dari luka yang ditertawakan, hingga pada bangkitnya kekuatan untuk mencintai diri sendiri. Ini bukan cerita tentang menghapus luka, tapi tentang bagaimana menyapa luka dengan penuh kesadaran: "Selamat pagi, luka. Terima kasih sudah membuatku tetap manusia." Baca selengkap nya : 📖 Baca Selamat Pagi Luka — Catatan dari Jiwa yang Pernah Terluka 📚 Baca Juga Karya Sutarmini – Omah Bangsan Merajut Masa Depan Lewat Teknologi dan Budaya Aku Anak Bapakku — Dari Nama yang Dipikul ke Nama yang Kutegakkan Aku Perawan Persembahan (PDF) Aku Pernah Jadi Koruptor Kala Cahaya Mengetuk Wasiat Ruhani Gerakan Lilin Nusantara · Omah ...

Aku Perawan Persembahan

Gambar
Aku Perawan Persembahan bukan kisah tentang kesucian tubuh, melainkan tentang kesucian jiwa yang ditempa oleh luka. Buku ini lahir dari kesaksian seorang perempuan tua yang akhirnya menyadari: dirinya adalah persembahan. Bukan karena rela, tapi karena berani berdiri di tengah badai — sebagai korban, saksi, bahkan pelaku dari sistem yang membungkam nurani. Sebuah refleksi yang lirih namun tajam, tentang negeri yang terus menguji kejujuran lewat birokrasi, kekuasaan, dan luka yang diwariskan dari generasi ke generasi   📘 Baca Sinopsis Lengkap Aku Perawan Persembahan di sini 📚 Baca Juga Karya Sutarmini – Omah Bangsan Merajut Masa Depan Lewat Teknologi dan Budaya Aku Anak Bapakku — Dari Nama yang Dipikul ke Nama yang Kutegakkan Aku Perawan Persembahan (PDF) Aku Pernah Jadi Koruptor Kala Cahaya Mengetuk Wasiat Ruhani Gerakan Lilin Nusantara · Omah Bangsan · 2025

<"Menyeberang Penuh Harapan" Puisi ini merupakan cuplikan dari kumpulan puisi Eyang berjudul "Selamat Pagi, Luka". ("A Crossing Full of Hope" This poem is an excerpt from my poetry collection titled "Good Morning, Wound")

Gambar
  Bahasa Indonesia Aku menyeberang dengan penuh harapan. Kupikir yang kutemui di seberang adalah tangan yang siap menggenggam, pelukan yang hangat, dan perlindungan yang tidak akan pernah lepas. Namun harapan itu menjelma luka. Luka yang tak bersuara, tapi menggelegak dalam dada. Luka yang tidak berdarah, tapi terus membuatku lemas. Luka yang datang dari harapan yang terlalu tinggi, pada seseorang yang hanya ingin jadi singgasana, bukan pelindung jiwa. Pagi ini, aku menyapa luka yang tak ingin kutolak lagi. Karena barangkali, luka adalah jalan untuk pulang kepada diriku sendiri yang utuh. English Translation I crossed over, filled with hope. I thought I’d find a hand ready to hold mine, a warm embrace, and protection that would never let go. But that hope turned into a wound. A voiceless wound, bubbling ...

Panggung alam spontan

Gambar
  Kata Pengantar Nama Mbah Jantit adalah suluh pertama yang menyalakan cahaya “Omah Bangsan.” Beliaulah — budayawan sepuh dari Solo — yang pertama kali menyebut nama itu, tepat di Hari Bumi, dalam sebuah panggung yang tak biasa: panggung spontan di tengah alam. Saya, Sutarmini, menyaksikan sendiri kekuatan jiwa beliau. Bukan hanya sebagai aktivis seni, tapi sebagai ruh dari gerakan kebudayaan yang bersahaja namun dalam. Buku ini adalah persembahan untuk mengenang dan meneruskan api yang telah beliau sulut. Omah Bangsan juga bergerak. Bersama tim budayawan pilihan, kami hadir untuk sekolah, kampung, komunitas — menghadirkan gamelan, tembang, gerak, dan rasa. Kami tak hanya tampil. Kami menyalakan kembali api yang pernah dijaga leluhur. Karena budaya bukan tontonan. Ia adalah napas, nilai, dan penyambung kehidupan. Di balik gerak Omah Bangsan, berdiri para jiwa yang menghidupkan budaya dengan cara yang tak biasa. Salah satunya: Mbah Jantit — atau yang dikenal sebagai Om Top. Bersama ...

Tentang omah BangsaN

Gambar
 Omah Bangsan adalah sanggar jiwa dan rumah budaya, lahir dari luka tapi memilih tidak tinggal dalam ratap. Di sinilah air mata diolah menjadi irama. Di sinilah tubuh-tubuh sunyi kembali bergerak dalam joget budaya. Omah Bangsan adalah ruang untuk belajar memukul gamelan, mengenal akar budaya, dan membentuk karakter. Anak-anak, cucu, dan anak didik diajak kembali ke kearifan. Latihan selama dua jam, lalu tampil percaya diri — bukan hanya tampil di panggung, tapi tampil dalam karakter. Semua bisa direkam, ditayangkan di YouTube. Sebab, bukan hanya suara yang harus diabadikan, tapi juga nilai yang diwariskan. Blog ini menjadi rumah digital Omah Bangsan: tempat narasi, karya buku, puisi, dan catatan sunyi ditanamkan. Selamat datang di Omah Bangsan. Rumah Ingatan. Suara Sunyi. Luka yang Menjadi Asa. Dan kini, juga rumah budaya untuk masa depan.