Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kesaksian

Bunga Rampai

Gambar
🌸 Bunga Rampai Omah BangsaN Bunga rampai ini adalah serpihan-serpihan hati Eyang yang belum sempat ikut dalam e-book. Ia mengalir begitu saja, bagai sumber yang tak pernah habis. 👉 Klik di sini untuk membaca Bunga Rampai yang terus bertumbuh Setiap hari mungkin ada tambahan baru, sebab sungai kata ini tidak pernah kering. Baca Juga: Monolog Luka Menjadi Asa Kala Cahaya Mengetuk Aku Perawan Persembahan Merajut Masa Depan lewat Teknologi dan Budaya (masih tahap edit) Merajut Masa Depan Lewat Teknologi dan Budaya Aku Anak Bapakku — Dari Nama yang Dipikul ke Nama yang Kutegakkan

Aku pernah jadi koruptor

Gambar
  Aku Pernah Jadi Koruptor Kesaksian ini bukan untuk membuka aib, melainkan untuk mengakui luka bangsa. Luka yang lahir karena korupsi sudah menjadi bagian dari keseharian birokrasi dan politik kita. Aku pernah jadi koruptor. Pengakuan ini pahit, tapi harus diucapkan... Baca selengkapnya » 📚 Baca Juga Karya Sutarmini – Omah Bangsan Merajut Masa Depan Lewat Teknologi dan Budaya Aku Anak Bapakku — Dari Nama yang Dipikul ke Nama yang Kutegakkan Aku Perawan Persembahan (PDF) Aku Pernah Jadi Koruptor Kala Cahaya Mengetuk Wasiat Ruhani Gerakan Lilin Nusantara · Omah Bangsan · 2025

Wasiat Ruhani

Gambar
Wasiat Ruhani untuk Anak Cucu (Prasasti Seorang Perempuan Jawa) Tulisan ini lahir dari perjalanan panjang seorang perempuan Jawa yang ditempa luka, stigma, dan cinta. Di dalamnya ada pertanyaan masa kecil tentang Tuhan, kisah tentang Simbah yang menjaga budaya dengan teko wedang, ibu yang tetap menyalakan jathilan dengan nasi ngeliwet, hingga pengalaman di Bali yang mengajarkan cara baru memandang kematian. Buku kecil ini adalah prasasti ruhani . Bukan tanda ingin cepat mati, melainkan bekal agar anak-cucu tidak bingung, tidak saling berselisih, dan tetap mendoakan dengan tenang ketika saat itu tiba. “Anak-anakku, cucu-cucuku tersayang, jika kelak Eyang sudah tidak lagi ada di sisimu, janganlah bingung dengan agamaku. Kini aku mengerti, Tuhan tidak butuh agama. Agama hanyalah jalan manusia, wadah yang berbeda-beda untuk sampai kepada-Nya. Sedang aku memilih jalan sederhana: jujur dalam hati, menyembuhkan dengan cinta, dan sujud tanpa malu-malu ...

Mimpi kah diriku

  🏡  Bukan Mimpi Semata – Ini Gerakan Nyata Hari ini, biarlah seluruh semesta tahu: Ini bukan mimpi Eyang semata. Bukan obsesi pribadi. Bukan ambisi yang haus simbol. Bukan pula panggung untuk sekadar tampil. 🕰️  Lima tahun lalu , di sebuah video yang Eyang rekam dan unggah ke kanal  YouTube Omah Bangsan , dua tokoh penting tampil menyuarakan harapan besar: 🎙️  Bapak Min Suratna  — tokoh masyarakat Sindumartani 🎙️  Prof Gunawan Sumodiningrat  — penggerak ekonomi kerakyatan Video itu bertajuk: “Membangun Indonesia dari Desa” Dan di situlah,  mimpi kita bersama disuarakan. “Saya ingin Sindumartani menjadi desa mandiri budaya.” — Bapak Min Suratna Hari ini, lima tahun kemudian, Eyang dan tim memegang komitmen itu. Kami sedang membangun: ✨  Lapak Sindu – Lapak Budaya  ✨ Bukan sekadar marketplace, tetapi gerakan — yang menyalurkan semangat kerakyatan ke dalam sistem digital. 📺  Tonton kembali jejak awalnya di YouTube: 🔗  ...

Kala Cahaya Mengetuk

  📖 Kala Cahaya Mengetuk Kala Cahaya Mengetuk adalah catatan perjalanan ruhani seorang perempuan yang pernah berdiri di tepi jurang luka, namun tak henti memanggil Tuhan. Dalam sunyi yang penuh doa, tiga kali ia mengalami mikraj — perjumpaan spiritual yang menggetarkan jiwa. Pengalaman pertama datang di tengah keprihatinan mendalam, saat doa untuk seorang saudara sepupu mengalir tanpa henti. Tiba-tiba, kesadaran melesat ke alam tanpa jejak bumi, dikelilingi cahaya lembut yang tak menyilaukan. Harapan yang ia titipkan pada Tuhan terjawab, meninggalkan keyakinan bahwa doa tak pernah sia-sia. Pengalaman kedua hadir pada saat kehilangan besar: kematian suami yang begitu mendadak. Dalam kesadaran penuh, ia melihat sosok yang dicintai datang sekali lagi — bukan dalam mimpi, tapi dalam ruang yang tak bisa dijelaskan oleh logika dunia. Senyum yang menenangkan itu menjadi pesan bahwa cinta sejati tak pernah mati, hanya berpindah dimensi. Pengalaman ketiga muncul di tengah zikir, ...

Luka Menjadi Asa

Gambar
  Luka Menjadi Asa adalah suara lirih yang dipanggil dari dasar batin. Sebuah monolog, bukan untuk panggung besar, melainkan untuk panggung jiwa — di mana seorang perempuan berbicara pada dirinya sendiri, pada lukanya, dan pada semesta. Naskah ini bukan sekadar teater, melainkan ritual pengakuan: tentang luka yang diwariskan, tentang sistem yang memukul pelan tapi menghancurkan, dan tentang keberanian untuk tetap hidup dan bermakna. Ditulis oleh perempuan tua yang telah bertahan dari badai, monolog ini mengajak kita merenung: bahwa dari luka terdalam, bisa lahir cahaya yang paling jernih. 🎭 Baca naskah lengkap Luka Menjadi Asa di sini 📚 Baca Juga Karya Sutarmini – Omah Bangsan Merajut Masa Depan Lewat Teknologi dan Budaya Aku Anak Bapakku — Dari Nama yang Dipikul ke Nama yang Kutegakkan Aku Perawan Persembahan (PDF) Aku Pernah Jadi Koruptor Kala Cahaya Mengetuk Wasiat Ruhani Gerakan Lilin Nusantara · Omah Bangsan · 2025

Aku Perawan Persembahan

Gambar
Aku Perawan Persembahan bukan kisah tentang kesucian tubuh, melainkan tentang kesucian jiwa yang ditempa oleh luka. Buku ini lahir dari kesaksian seorang perempuan tua yang akhirnya menyadari: dirinya adalah persembahan. Bukan karena rela, tapi karena berani berdiri di tengah badai — sebagai korban, saksi, bahkan pelaku dari sistem yang membungkam nurani. Sebuah refleksi yang lirih namun tajam, tentang negeri yang terus menguji kejujuran lewat birokrasi, kekuasaan, dan luka yang diwariskan dari generasi ke generasi   📘 Baca Sinopsis Lengkap Aku Perawan Persembahan di sini 📚 Baca Juga Karya Sutarmini – Omah Bangsan Merajut Masa Depan Lewat Teknologi dan Budaya Aku Anak Bapakku — Dari Nama yang Dipikul ke Nama yang Kutegakkan Aku Perawan Persembahan (PDF) Aku Pernah Jadi Koruptor Kala Cahaya Mengetuk Wasiat Ruhani Gerakan Lilin Nusantara · Omah Bangsan · 2025