Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

<"Menyeberang Penuh Harapan" Puisi ini merupakan cuplikan dari kumpulan puisi Eyang berjudul "Selamat Pagi, Luka". ("A Crossing Full of Hope" This poem is an excerpt from my poetry collection titled "Good Morning, Wound")

Gambar
  Bahasa Indonesia Aku menyeberang dengan penuh harapan. Kupikir yang kutemui di seberang adalah tangan yang siap menggenggam, pelukan yang hangat, dan perlindungan yang tidak akan pernah lepas. Namun harapan itu menjelma luka. Luka yang tak bersuara, tapi menggelegak dalam dada. Luka yang tidak berdarah, tapi terus membuatku lemas. Luka yang datang dari harapan yang terlalu tinggi, pada seseorang yang hanya ingin jadi singgasana, bukan pelindung jiwa. Pagi ini, aku menyapa luka yang tak ingin kutolak lagi. Karena barangkali, luka adalah jalan untuk pulang kepada diriku sendiri yang utuh. English Translation I crossed over, filled with hope. I thought I’d find a hand ready to hold mine, a warm embrace, and protection that would never let go. But that hope turned into a wound. A voiceless wound, bubbling ...

Panggung alam spontan

Gambar
  Kata Pengantar Nama Mbah Jantit adalah suluh pertama yang menyalakan cahaya “Omah Bangsan.” Beliaulah — budayawan sepuh dari Solo — yang pertama kali menyebut nama itu, tepat di Hari Bumi, dalam sebuah panggung yang tak biasa: panggung spontan di tengah alam. Saya, Sutarmini, menyaksikan sendiri kekuatan jiwa beliau. Bukan hanya sebagai aktivis seni, tapi sebagai ruh dari gerakan kebudayaan yang bersahaja namun dalam. Buku ini adalah persembahan untuk mengenang dan meneruskan api yang telah beliau sulut. Omah Bangsan juga bergerak. Bersama tim budayawan pilihan, kami hadir untuk sekolah, kampung, komunitas — menghadirkan gamelan, tembang, gerak, dan rasa. Kami tak hanya tampil. Kami menyalakan kembali api yang pernah dijaga leluhur. Karena budaya bukan tontonan. Ia adalah napas, nilai, dan penyambung kehidupan. Di balik gerak Omah Bangsan, berdiri para jiwa yang menghidupkan budaya dengan cara yang tak biasa. Salah satunya: Mbah Jantit — atau yang dikenal sebagai Om Top. Bersama ...

Tentang omah BangsaN

Gambar
 Omah Bangsan adalah sanggar jiwa dan rumah budaya, lahir dari luka tapi memilih tidak tinggal dalam ratap. Di sinilah air mata diolah menjadi irama. Di sinilah tubuh-tubuh sunyi kembali bergerak dalam joget budaya. Omah Bangsan adalah ruang untuk belajar memukul gamelan, mengenal akar budaya, dan membentuk karakter. Anak-anak, cucu, dan anak didik diajak kembali ke kearifan. Latihan selama dua jam, lalu tampil percaya diri — bukan hanya tampil di panggung, tapi tampil dalam karakter. Semua bisa direkam, ditayangkan di YouTube. Sebab, bukan hanya suara yang harus diabadikan, tapi juga nilai yang diwariskan. Blog ini menjadi rumah digital Omah Bangsan: tempat narasi, karya buku, puisi, dan catatan sunyi ditanamkan. Selamat datang di Omah Bangsan. Rumah Ingatan. Suara Sunyi. Luka yang Menjadi Asa. Dan kini, juga rumah budaya untuk masa depan.