Panggung alam spontan

 Kata Pengantar

Nama Mbah Jantit adalah suluh pertama yang menyalakan cahaya “Omah Bangsan.” Beliaulah — budayawan sepuh dari Solo — yang pertama kali menyebut nama itu, tepat di Hari Bumi, dalam sebuah panggung yang tak biasa: panggung spontan di tengah alam.

Saya, Sutarmini, menyaksikan sendiri kekuatan jiwa beliau. Bukan hanya sebagai aktivis seni, tapi sebagai ruh dari gerakan kebudayaan yang bersahaja namun dalam. Buku ini adalah persembahan untuk mengenang dan meneruskan api yang telah beliau sulut.


Omah Bangsan juga bergerak.

Bersama tim budayawan pilihan, kami hadir untuk sekolah, kampung, komunitas —

menghadirkan gamelan, tembang, gerak, dan rasa.


Kami tak hanya tampil. Kami menyalakan kembali api yang pernah dijaga leluhur.


Karena budaya bukan tontonan. Ia adalah napas, nilai, dan penyambung kehidupan.

Di balik gerak Omah Bangsan, berdiri para jiwa yang menghidupkan budaya dengan cara yang tak biasa.


Salah satunya: Mbah Jantit — atau yang dikenal sebagai Om Top.

Bersama timnya, ia mampu menyelenggarakan panggung alam spontan,

di mana anak-anak muda yang tadinya liar, kini diam dan menyala.


Mereka membuat topeng dari limbah kertas, bukan sekadar karya,

tapi juga jalan olah batin yang mengajak kerja sama, olah rasa, dan kecerdasan kolektif.


Gerakan ini dibingkai dalam falsafah yang kuat:


PDIK — KENDALIKAN



PANASTEN DAHWEN IREN KEMIREN


Falsafah ini bukan sekadar slogan, tapi telah menjadi jiwa sanggar.


Di sini, budaya tidak dipaksakan. Ia hidup. Ia menyala.

Aura anak-anak keluar dari dalam — bukan karena disuruh,

tapi karena mereka merasa terhubung dengan tanah dan leluhur.



Panggung Tanah Mbah Jantit

Di tanah tak bernama,

ia gelar panggung tanpa panggung.

Langit jadi atap,

rumput jadi alas,

angin jadi musik,

dan cahaya jadi sorot yang paling jujur.


Tak ada tata lampu,

hanya cahaya wajah anak-anak

yang berhenti pecicilan,

belajar menunduk

seperti daun yang baru paham

arti angin.


Topeng dari limbah,

di tangannya menjadi wajah peradaban.

Ia tak mengajar dari podium,

tapi dari luka.

Tak berseru dari mimbar,

tapi dari diam tubuh renta

yang tetap bergerak

seperti doa yang terus hidup.


Mbah Jantit,

kau bukan aktor,

tapi panggung itu sendiri.

Kau bukan pelaku seni,

kau seni yang menyembuhkan.


Punthuk Solo tak lagi sunyi,

sebab jejakmu membekas

di setiap tanah yang kau sebut rumah.

Engkau tak menggelar pertunjukan,

engkau menumbuhkan kesadaran.


Kini ketika tubuhmu kian rapuh,

suaramu malah makin nyaring —

sebab ia bergaung

di daun, di batu, di hati

anak-anak yang telah kautanam.


Mbah,

engkau tak pernah pensiun.

Karena semesta

masih terus memainkan lakonmu

dalam napas kami.

 Tak ada tata lampu,

hanya cahaya wajah anak-anak

yang berhenti pecicilan,

lalu sujud dalam diam,

belajar menunduk

seperti daun yang baru paham

arti angin.

Mereka  menanggalkan alas kaki,

melangkah telanjang menyusuri Kali Gendol.

Tak ada yang memaksa,

tapi seakan semesta sendiri yang memanggil.


Anak-anak muda yang biasanya cuek dan "semua gue",

kini menunduk—bukan karena takut,

tapi karena merasa kecil di hadapan tanah.

Air kali menjadi pembasuh kesadaran,

mengalirkan diam yang lebih keras dari orasi.



📚 Baca Juga Karya Sutarmini – Omah Bangsan

Gerakan Lilin Nusantara · Omah Bangsan · 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Perawan Persembahan

Kala Cahaya Mengetuk