Buah Simalakama
🌿 Buah Simalakama
Aku sering mendengar pepatah tua tentang buah simalakama:
buah yang serba salah—
dimakan mati ayah,
tak dimakan mati ibu.
Sejarah hidupku pun tak jauh berbeda.
Aku lahir dari rahim seorang ibu
yang kupikir darahnya adalah darah pejuang.
Pejuang yang tidak tercatat di buku besar republik,
tapi nyata menjaga dapur tetap mengepul.
Ia membuat anak-anaknya tetap bisa makan nasi,
ketika tetangga hanya sanggup menanak bulgur.
Kadang aku bertanya:
benarkah darah itu mengalir dalam tubuhku?
Bolehkah aku mengklaim lahir dari semangat para pejuang itu?
Ataukah aku hanya perempuan biasa,
yang tumbuh di antara kisah getir perjuangan?
---
Aku masih ingat gemuruh panjang itu.
Baru awal aku bertugas di kepolisian,
tawaran menggiurkan datang begitu saja:
gaji empat kali lipat, asal aku mau resign.
Saat itu aku sudah tahu,
mungkin karierku suatu hari akan mentok.
Dan benar, aku mengalami sendiri
terpinggirkan karena benang merah orangtuaku,
yang pernah terseret tuduhan PKI.
Tapi aku tidak sanggup berkhianat,
apalagi “minterin” negara demi uang.
Bagiku, itu bukan jalan pejuang.
Aku memilih tetap berada di barisan ini—
meski pahit, meski sepi,
meski jalanku tidak selalu terbuka.
Kini aku paham,
kesadaran hidup bukanlah pilihan,
melainkan takdir yang sudah tertulis di urat nadiku.
Sembilan puluh sembilan orang mungkin akan mengambilnya.
Tapi aku termasuk yang satu,
yang justru tak berani memilih.
Bukan karena aku suci,
melainkan karena hatiku gemetar
di hadapan kata “pengkhianatan.”
---
Setiap kali lagu Padamu Negeri berkumandang,
dadaku bergetar,
mataku merebak air mata.
Aku bertanya lirih:
apakah berarti pengorbananku ini bagimu, negeri?
Jiwa raga kami telah kuserahkan,
tapi benarkah engkau mengakuinya?
Pesan ayahku selalu terngiang—
ayah yang pernah distigma sebagai pengkhianat:
“Anak-anakku, janganlah ikut-ikutan politik.
Kejamnya BPK sudah cukup bagiku.
Tapi jangan pernah dendam pada negeri ini.
Tarmini, engkau terutama…
tetaplah mengabdi,
apapun kata orang.”
Maka aku belajar menelan pahitnya simalakama,
bukan dengan dendam,
melainkan dengan kesetiaan.
Karena bagaimanapun,
negeri ini adalah tanah airku,
dan darah pejuang—meski tercoreng stigma—
tetap mengalir di tubuhku.
---
🌌 Penutup — Pertanyaan Batin
Dan kini aku bertanya pada diriku sendiri,
juga pada semesta yang menjadi saksi:
Benarkah setiap langkah hidup ini
adalah makan buah simalakama?
Benarkah setiap pilihan selalu meninggalkan luka,
selalu ada pihak yang tersakiti,
selalu ada bagian dari diriku yang harus kukorbankan?
Atau mungkinkah semesta sedang berbisik:
bahwa pahitnya simalakama bukanlah kutukan,
melainkan jalan pulang
kepada kejujuran dan kepasrahan?
---
📌 Catatan:
Tulisan ini bukan bagian dari naskah Aku Perawan Persembahan yang sudah rampung,
melainkan catatan batin yang lahir kemudian, sebagai kelanjutan renungan.
Label/Hashtag disarankan: #CurhatBatin #BuahSimalakama #AkuPerawanPersembahan #OmahBangsan
📚 Baca Juga Karya Sutarmini – Omah Bangsan
- Merajut Masa Depan Lewat Teknologi dan Budaya
- Aku Anak Bapakku — Dari Nama yang Dipikul ke Nama yang Kutegakkan
- Aku Perawan Persembahan (PDF)
- Aku Pernah Jadi Koruptor
- Kala Cahaya Mengetuk
- Wasiat Ruhani
Gerakan Lilin Nusantara · Omah Bangsan · 2025
.png)
Komentar
Posting Komentar