Aku anak Bapakku
Aku Anak Bapakku
oleh Sutarmini – Omah Bangsan
Kalimat “Aku anak bapakku” pernah terasa berat seperti beban di punggung. Ia mengingatkan pada masa ketika label lebih keras daripada fakta, ketika stigma lebih nyaring daripada kebenaran. Namun justru dari sanalah saya belajar menegakkan nama — bukan sebagai tameng, tetapi sebagai amanah.
Dari Luka Menjadi Asa
Masa kecil menyimpan ingatan yang tak mudah dilupakan: ketegangan, bisik-bisik, dan rasa takut akan hal-hal yang tak saya mengerti. Tetapi waktu, doa ibu, dan pelukan keluarga mengajari saya untuk memandang ke depan. Luka memang meninggalkan bekas, tetapi bekas itulah yang membentuk peta untuk pulang.
Nama yang Dipikul, Nama yang Kutegakkan
Nama bukan sekadar huruf — ia sejarah dan tanggung jawab. Saya memilih untuk merawat nama itu dengan melakukan yang bisa saya lakukan: bekerja jujur, belajar tanpa henti, menulis dengan hati. Jika dulu saya memikul nama, kini saya menegakkannya, agar anak cucu tak lagi berjalan dengan kepala tertunduk.
“Integritas yang tumbuh dari sunyi.”
Warisan untuk Anak Cucu
Aku ingin rumah bernama Omah Bangsan menjadi tempat belajar bersama: membaca sejarah, merajut budaya, dan menyalakan lilin nurani. Agar setiap anak punya ruang untuk sembuh, dan setiap keluarga punya alasan untuk berharap.
Baca Juga
- Merajut Masa Depan lewat Teknologi dan Budaya
- Aku Anak Bapakku — Dari Nama yang Dipikul ke Nama yang Kutegakkan
- Aku Perawan Persembahan (PDF)
- Aku Pernah Jadi Koruptor (Doc)
- Aku Pernah Jadi Koruptor (PDF)
- Kala Cahaya Mengetuk
- Wasiat Ruhani
Gerakan Lilin Nusantara · Omah Bangsan · 2025

Komentar
Posting Komentar