Demo Nurani : Berani tolak Politik uang


Jangan Mau Miskin, Termasuk Miskin Nurani

Polisi sering kali menjadi wajah bobrok di mata rakyat. Mereka dituding sebagai biang pungli, aparat penindas, wajah keras negara. Padahal, Demo Nurani mengingatkan: jangan berhenti menyalahkan polisi. Akar masalah bukan di seragam mereka.

Akar busuk itu ada di kursi DPR yang diperjualbelikan. Kursi yang dibeli dengan harga miliaran melahirkan undang-undang yang korup, menyuburkan pungli dari atas hingga ke bawah. Polisi hanya menjadi pelaksana dari aturan yang sudah busuk sejak hulu.

Dan jangan lupa, di balik kursi mahal itu ada uang politik. Meskipun kita miskin, jangan lagi mau menerima uang yang justru membuat kita semakin miskin. Uang itu bukan rezeki, melainkan racun. Dari uang politik lahirlah pajak yang dinaikkan, pungutan yang mencekik, dan akhirnya hanya pemodal yang bisa hidup nyaman. Aspirasi rakyat hilang, pemerintah menjadi budeg dan tuli.

Maka Demo Nurani mengajak: jangan hanya marah, jangan hanya menyalahkan. Ajak tetanggamu, ajak tokoh masyarakat di kampungmu—guru, ustadz, pendeta, siapa saja yang didengar rakyat. Katakan: jangan terlalu miskin, termasuk miskin nurani. Jangan mau dibohongi oleh uang receh yang merusak martabat.

Perubahan besar lahir dari nurani yang jernih. Dari obrolan kecil di warung, dari pos ronda, dari RT dan RW. Jika rakyat berani menolak uang haram, kursi tidak lagi diperjualbelikan, undang-undang kembali berpihak pada rakyat, dan polisi tidak lagi menjadi kambing hitam.

Demo Nurani bukan sekadar seruan, tapi cermin untuk kita semua: berani menolak miskin nurani agar bangsa ini kembali berdaulat di tangan rakyatnya.


Baca Juga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Perawan Persembahan

Panggung alam spontan

Kala Cahaya Mengetuk