Wasiat Ruhani
Wasiat Ruhani untuk Anak Cucu
(Prasasti Seorang Perempuan Jawa)
Tulisan ini lahir dari perjalanan panjang seorang perempuan Jawa yang ditempa luka, stigma, dan cinta. Di dalamnya ada pertanyaan masa kecil tentang Tuhan, kisah tentang Simbah yang menjaga budaya dengan teko wedang, ibu yang tetap menyalakan jathilan dengan nasi ngeliwet, hingga pengalaman di Bali yang mengajarkan cara baru memandang kematian.
Buku kecil ini adalah prasasti ruhani. Bukan tanda ingin cepat mati, melainkan bekal agar anak-cucu tidak bingung, tidak saling berselisih, dan tetap mendoakan dengan tenang ketika saat itu tiba.
“Anak-anakku, cucu-cucuku tersayang, jika kelak Eyang sudah tidak lagi ada di sisimu, janganlah bingung dengan agamaku. Kini aku mengerti, Tuhan tidak butuh agama. Agama hanyalah jalan manusia, wadah yang berbeda-beda untuk sampai kepada-Nya. Sedang aku memilih jalan sederhana: jujur dalam hati, menyembuhkan dengan cinta, dan sujud tanpa malu-malu kepada Yang Esa.”
Semoga naskah kecil ini menjadi warisan batin: mengingatkan kita bahwa doa tulus jauh lebih berharga daripada cara apa pun di dunia. Dan ingatlah, berdoa dalam jarak pun tiada berbeda.
📚 Baca Juga Karya Sutarmini – Omah Bangsan
- Merajut Masa Depan Lewat Teknologi dan Budaya
- Aku Anak Bapakku — Dari Nama yang Dipikul ke Nama yang Kutegakkan
- Aku Perawan Persembahan (PDF)
- Aku Pernah Jadi Koruptor
- Kala Cahaya Mengetuk
- Wasiat Ruhani
Gerakan Lilin Nusantara · Omah Bangsan · 2025

Komentar
Posting Komentar